3 Maret 2012

MAKNA DUNIA DAN PENYIKAPANNYA (RIYADHOH DAN MUJAHADAH)


MAKNA DUNIA DAN PENYIKAPANNYA
(RIYADHOH DAN MUJAHADAH)

I.     PENDAHULUAN
Dunia dengan berbagai gemerlap dan kemilaunya, menjanjikan kesenangan yang begitu memikat. Limpahan materi, tingginya pangkat dan jabatan, luasnya kekuasaan menjanjikan kebahagian bagi setiap orang untuk dapat meraihnya, menjadikan setiap orang memimpikannya.Namun kesenangan dunia yang dapat direguk bukan malah menjadikan penikmatnya terpuaskan, malah justru sebaliknya semakin haus yang dirasakan. Sebuah ironi nyata, dunia bagaikan candu yang membuat setiap orang ketagihan. Tidak sedikit orang yang tenggelam dalam larutnya kehidupan dunia. Kebutuhan yang meningkat, godaan keinginan dan lain-lain yang menyangkut kehidupan  menjadi salah satu penyebab tenggelamnya banyak orang.
Diantara orang-orang yang tenggelam tersebut, tidak sedikit yang akhirnya merasa jenuh dengan pola kehidupan dunia yang tak pernah ada habisnya dikejar. Rasa jenuh tersebut membawanya mencari sesuatu yang tidak didapatkannya dalam gemerlap dunia. Tidak sedikit diantara mereka yang akhirnya memilih tasawuf sebagai obat bagi keresahan hatinya, sebab tasawuf mengedepankan ketenangan hati bukan kebahagiaan materi yang semu. Selain itu tasawuf juga punya pandangan tersendiri tentang dunia, baik untuk orang yang sudah memiliki segalanya kemudia jenuh dengan semua itu, maupun untuk orang yang belum merasakan manisnya dunia sebagai tameng agar tidak terlalu jauh mengangankan sesuatu yang semu.
Makalah ini, akan sedikit mengupas tentang dunia dan kehidupan menurut sudut pandang tasawuf, bagaimana para sufi menyikapinya dan bagaimana cara membentengi dan menghindari diri dari godaan dunia. Semoga pembahasan dalam makalah ini dapat bermanfaat dalam kehidupan kita, paling tidak dapat menambah khazanah pengetahua kita. Dan terlebih lagi dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

II.  PEMBAHASAN
A.   Hakekat Dunia Dan Kehidupan Menurut Perspektif Tasawuf
Imam al-Ghazali mendefinisikan dunia sebagai segala objek yang dapat ditemukan. Berdasarkan pengertian ini, dunia bisa dikatakan sebagai bumi dengan segala yang ada padanya. Allah berfirman,
إنا جعلنا ما على الأرض زينة لها لنبلوهم أيهم أحسن عملا
Al-Ghazali membagi keterkaitan manusia dengan dunia menjadi dua, yaitu keterikatan batin (hati) dan keterkaitan zhahir. Keterikatan batin atau hati tercermin dari rasa cinta pada dunia dan keterikatan zhahir tercermin dari kesibukan fisik meladeni dunia tersebut. Allah SWT berfirman,
زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين والقناطير المقنطرة من الذهب والفضة والخيل المسومة والأنعام

B.   Berbagai Cara pandang terhadap Dunia Dan kehidupan
Al-ghazali membagi cara pandang manusia terhadap dunia dan kehidupan kedalam beberapa kelompok. Golongan pertama tenggelam dalam kebodohan dan kealpaan. Golongan ini menganggap bahwa mereka hidup di dunia ini hanya beberapa hari, oleh karenanya mereka hanya disibukan dengan rutinitas yang sangat monoton. Mereka bekerja supaya bisa makan dan mereka makan supaya bisa bekerja. Bersusah payah siang hari agar bisa istirahat di malam hari dan beristirahat di malam hari agar keesokannya dapat bekerja kembali. Rutinitas ini menurut mereka baru akan berakhir kala kematian datang menjemput.
Kedua, golongan yang menganggap kesenangan dunia adalah jika sudah terpenuhinya kebutuhan biologis seperti makan, minum, tidur atau hasrat seksual. Maka golongan ini senantiasa disibukkan oleh upaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut dan lupa tehadap Allah SWT dan hari akhir. Golongan ni menjalani kehidupan seprti binatang yang hanya mengikuti naluri lahiriyahnya saja.
Ketiga, golongan yang menganggap bahwa kebahagiaan terletak pada harta dan kekayaan. Golongan ini berupaya untuk mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya, jika tidak cukup siang hari mereka bekerja maka malam haripun direlakan mengurangi waktu istirahat. Mereka cenderung pelit -bahkan untuk diri mereka sendiri kecuali darurat-, karena khawatir kekayaannya berkurang. Padahal ketika ia mati justru orang lain yang menikmati hasil jerih payahnya tersebut. Hal ini tidak mejadi ibroh bagi orang berpikiran sama sesudahnya. 
Keempat, golongan yang menganggap bahwa kebahagiaan adalah jika dipandang baik oleh orang lain melalui sanjungan atau pujian. Golongan ini rela meminimalisasi biaya makan, tetapi royal dalam membelanjakan pakaian, perhiasan, kendaraan, rumah serta penampilan lainnya untuk memperoleh sanjungan dan pujian tersebut.
Kelima, golongan yang menganggap kebahagiaan dunia terletak pada pangkat dan jabatan. Golongan ini rela mengorbankan apa saja untuk mendapatkan pangkat dan jabatan tersebut. Mereka berupaya agar orang lain tunduk dan patuh kepadanya. Semakin besar kekuasaanya, semakin besar pula kebahagiaan hidup yang diperoleh. Mereka sibuk mencari tawadhu’ manusia kepada mereka dan melupakan tawadhu’ mereka kepada Allah dan melupakan akherat.

C.  Riyadhoh Dan Mujahadah Para Sufi
Selain golongan-golongan diatas, ada juga yang sadar dan berpaling dari kehidupan dunia. Mereka berusaha untuk tidak terbawa arus kehidupan, mereka yakin kebahagiaan sebenarnya adalah pada kehidupan sesudah kematian. merekapun tidak luput dari godaan syetan –la’natullahi alaih- yang selalu berusaha menjerumuskan manusia. Orang-orang yang tersadar ini juga terbagi menjadi beberapa golongan
Sebagian golongan yang yakin bahwa dunia adalah tempat ujian dan kesengsaraan dan akherat adalah tempat kebahagiaan hakiki. Setiap orang yang bisa mencapainya akan memperoleh kebahagiaan baik ia beribadah atau tidak. Untuk mencapai kebahagiaan di akherat tersebut, mereka melakukan bunuh diri –membakar diri misalnya- sebagai pembebasan dari ujian dan kesengsaraan dunia.
Golongan lain berkeyakinan bahwa denga cara membunuh diri tidak bisa membebaskan diri dari ujian dan kesengsaraan dunia tersebut, tetapi terlebih dulu harus membunuh keburukan diri dengan cara meninggalkan semua nafsu dunyawiyah dan bermujahadah secara ekstrim. Akibatnya, sebagian ada rusak fisiknya karena sakit, sebagian lainnya rusak syarafnya dan gila, keduanya terhalang untuk melakukan ibadah.
Golongan lain lagi merasa tidak mampu meninggalkan nafsu duniawiyah secara keseluruhan dan beranggapan bahwa hukum syara’ terlalu memberatkan. Kemudian beranggapan bahwa Allah maha kaya, tidak akan bertambah kemahakayaannya karena ibadah manusia dan sebaliknya, tidak akan berkurang kemahakayaannya kerena maksiat manusia. Akibat keyakinan ini, mereka kembali melakukan maksiat. Tidak Cuma itu, mereka menganganggap konsep kemahakayaan Allah ini merupakan tauhid yang paling murni.
Sebagian yang lain lagi meyakini bahwa ibadah adalah wasilah seorang hamba untu mencapai ma’rifat kepada Allah. Ketika ma’rifat tersebut telah diperoleh maka ibadah tidak lagi diperlukan, karena merasa sudah memperoleh derajat tinggi di sisi Allah. Ibadah berupa pelaksanaan hukum syara’ hanya dibebankan kepada orang awam.
Disamping golongan-golongan tersebut diatas, masih banyak lagi golongan yang berkeyakinan sesat dan menyesatkan. Adapun cara melakukan riyadhoh dan mujahadah yang benar menurut Al-Ghozali adalah dengan cara mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Yaitu, tidak meninggalkan dunia secara keseluruhan dan tidak mengambil dunia secara keseluruhan, caranya adalah dengan mengetahui hakekat yang dibutuhkan dan tidak melebihi hakekatnya tersebut. Sebagaimana Allah berfirman :
بل كان أمرهم بين ذالك قواما
Menurut Imam Al-Ghazali, salah satu cara bermujahadah adalah jika mendapatkan diri telah berbuat maksiat atau keburukan, maka sebaiknya memberikan hukuman kepada diri sendiri, dan apabila telah melakukan suatu ibadah atau kebaikan, maka sebaiknya berusaha meningkatkan kebaikan atau ibadah tersebut meskipun harus memaksa diri sendiri.
Khalifah Umar bin Khattab, karena tertinggal sholat jamaah, menghukum diri sendiri dengan cara menyedekahkan tanah yang senilai dengan 200.000 dirham. Ibnu Umar, jika terlewat shalat jama’ah, maka ia beribadah sepanjang malam dan memerdekakan 2 orang budak. Ibnu Abi Rabi’ah jika terlewat dua rakaat fajar, maka ia memerdekakan seorang budak. Sebagian sahabat yang lain menghukum diri sendiri dengan cara puasa sepanjang tahun atau melaksanakan haji dengan cara berjalan kaki.

D.  Membiasakan Diri Untuk Beriyadhoh Dan Bermujahadah
Musuh paling besar bagi setiap orang adalah nafsunya sendiri. Nafsu tersebut cenderung pada hal-hal negatif seperti maksiat dan malas beribadah dan lebih berorientasi pada kehidupan duniawi. Riyadhoh dan mujahadah bertujuan untuk melatih diri agar tidak terbawa arus nafsu dan justru mengendalikan nafsu tersebut, sehingga ibadah yang dilakkukan menjadi lebih maksimal dan lebih bernilai. Riyadhoh dan mujahadah juga membawa orientasi kehidupan ke arah kebahagiaan ukhrowi.
Menurut al-Ghazali, pembiasaan diri melakukan riyadhoh dan mujahadah salah satunya bisa dilakukan dengan cara senantiasa menasehati diri sendiri. Allah SWT berfirman :
وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين
Nasehat itu bisa berupa semacam dialog kepada diri sendiri dengan mengatakan antara lain :
a.    Betapa bodohnya engkau, tidak tahu akan masuk kemana, surga atau neraka, sementara engkau selalu bersenda gurau, tertawa dan disibukkan kehidupan dunia.
b.    Bodohnya engkau, menganggap kematian masih lama. Padahal, kematian datangnya tiba-tiba tanpa aba-aba sebelumnya, kenapa engkau tidak bersiap-siap.
c.    Celakanya engkau, mengaku beriman tetapi kemunafikan yang nampak. Bukankah Allah berfirman dalam hal urusan dunia :
وما من دابة فى الأرض إلا على الله رزقها
Dan dalam hal urusan akherat Allah berfirman,
وأن ليس للإنسان إلا ما سعى
Allah telah mengukur jatah urusan duniamu, kemudian engkau menginginkan lebih dari itu. Allah telah menyerahkan urusan akherat atas jerih payah engkau, kemudian engkau berpalling. Jika saja iman cukup di lisan, kenapa orang munafiq ada di neraka paling bawah.
d.        Celakanya engkau, seolah tidak percaya pada hari perhitungan. Engkau mengira setelah kematian engkau akan lenyap begitu saja. Engkau lupa telah diciptakan dari air mani, kemudian menjadi segumpal darah dan seterusnya. Bukankah itu pertanda bahwa Allah SWT mampu menghidupkan yang mati.
e.         Jika saja seorang yahudi berkata “jangan makan ini atau itu sebab tidak baik untuk kesehatan”, padahal makanan tersebut kesukaanmu, engkau bisa lakukan. Maka, apakah ucapan para nabi, Firman Allah, tidak bisa engkau laksanaka
f.         Jika saja seorang anak kecil yang berkata “di pakaianmu ada kalajengking”, maka engkau akan melepas bajumu saat itu juga tanpa pikir panjang, tanpa perlu bukti. Maka, apakah ucapan para nabi, para auliya tidak lebih baik bagimu dibandingkan ucapan anak kecil tadi.

III.             PENUTUP
Kehidupan dunia yang begitu memikat bisa membuat semua orang lupa bahwa hakekatnya hanya sementara. Banyak orang yang mengejar kebahagiaan duniawi yang semu dan meninggalkan upaya mencapai kebahagiaan ukhrowi yang hakiki. Makalah ini setidaknya memberikan gambaran tentang hakekat dunia dan kehidupan, pandangan-pandangan terhadap dunia tersebut serta sedikit kiat agar tidak terbawa semu arus dunia.
Kritik, saran dan partisipasi dari peserta diskusi, terlebih tambahan dari dosen sangat kami perlukan untuk menambah wawasan khususnya terkait masalah ini. Sebab, makalah ini mustahil tanpa kekurangan dan kealpaan.
والله أعلم بالصواب

1 komentar: